1000→ 1001→
| No | T (°C) | K (M) | t (s) | 1/t (s⁻¹) | 1024→
|---|
Energi minimum untuk tumbukan efektif
1074→Lebih banyak partikel = konsentrasi lebih tinggi
1083→Suhu lebih tinggi = partikel lebih cepat
1092→Kontrol kecepatan animasi partikel
1103→Partikel per volume bertambah → jarak antar partikel menurun → peluang tumbukan meningkat → laju reaksi naik.
1158→Hanya tumbukan dengan energi kinetik ≥ Eₐ yang menghasilkan reaksi. Naikkan suhu untuk menaikkan energi partikel.
1162→Tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi. Hanya yang memiliki energi cukup DAN orientasi tepat.
1166→1187→ Teori Tumbukan, yang dikembangkan oleh Max Trautz (1916) dan William Lewis (1918), menjelaskan bahwa reaksi kimia terjadi akibat tumbukan antar partikel reaktan. Namun, tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi — hanya tumbukan yang memenuhi syarat tertentu yang akan menghasilkan produk. 1188→
1189→Energi kinetik tumbukan ≥ Energi aktivasi (Eₐ)
1194→Partikel harus bertumbukan dengan sudut/orientasi yang benar
1199→Semakin sering tumbukan efektif, semakin cepat reaksi
1204→1207→ Tumbukan yang memenuhi kedua syarat disebut tumbukan efektif. Laju reaksi sebanding dengan frekuensi tumbukan efektif per satuan waktu: 1208→
1209→1213→ di mana: Z = frekuensi tumbukan, f = fraksi partikel dengan energi ≥ Eₐ, P = faktor probabilitas orientasi (faktor sterik). 1214→
1215→1226→ Konsentrasi menyatakan jumlah partikel zat terlarut dalam satuan volume tertentu (mol/L atau M). Pada reaksi homogen, peningkatan konsentrasi reaktan akan mempercepat laju reaksi melalui mekanisme berikut: 1227→
1228→Pada konsentrasi 2 M, jumlah partikel reaktan per liter dua kali lipat dibanding 1 M. Dalam volume yang sama, kerapatan partikel meningkat.
1232→Partikel yang lebih rapat berarti jarak tempuh antar tumbukan lebih pendek, sehingga frekuensi tumbukan per satuan waktu meningkat.
1236→Lebih banyak partikel × jarak lebih dekat → lebih banyak tumbukan per detik. Secara matematis, frekuensi tumbukan sebanding dengan hasil kali konsentrasi reaktan.
1240→Karena distribusi energi partikel tidak berubah, fraksi tumbukan efektif tetap. Namun karena total tumbukan naik, jumlah tumbukan efektif juga naik proporsional.
1244→Lebih banyak tumbukan efektif per detik → reaksi selesai lebih cepat → waktu yang dibutuhkan untuk membentuk jumlah produk tertentu menjadi lebih singkat.
1248→1253→ Bayangkan dua ruangan berukuran sama. Ruangan A berisi 10 orang, ruangan B berisi 50 orang. Jika setiap orang berjalan acak, peluang dua orang bertabrakan di ruangan B jauh lebih tinggi dibanding ruangan A. Begitu pula partikel reaktan — semakin pekat, semakin tinggi peluang tumbukan. 1254→
1255→Untuk reaksi umum: aA + bB → produk, hukum laju dinyatakan sebagai:
1267→1271→ di mana v = laju reaksi, k = konstanta laju, [A], [B] = konsentrasi reaktan, m, n = orde reaksi terhadap A dan B. 1272→
1273→ 1274→Laju tidak dipengaruhi konsentrasi. v = k
1278→Laju ∝ [A]. v = k[A]
1283→Laju ∝ [A]². v = k[A]²
1288→1295→ Untuk reaksi yang disimulasikan di lab ini, laju dapat diamati melalui waktu yang dibutuhkan untuk membentuk endapan belerang: 1296→
1297→1301→ Karena jumlah endapan yang diamati konstan (saat X menghilang), maka laju berbanding terbalik dengan waktu: v = 1/t. Dengan mengukur t pada berbagai [Na₂S₂O₃], kita dapat menentukan orde reaksi. 1302→
1303→Persamaan Arrhenius menghubungkan konstanta laju (k) dengan suhu dan energi aktivasi:
1315→1319→ di mana A = faktor frekuensi (pre-exponential factor), Eₐ = energi aktivasi (J/mol), R = konstanta gas (8,314 J/mol·K), T = suhu absolut (K). 1320→
1321→1327→ Dengan memplot ln k terhadap 1/T, diperoleh garis lurus dengan kemiringan −Eₐ/R. Inilah dasar penentuan energi aktivasi eksperimen. 1328→
1329→