1000→ 1001→
1002→

Quick Preset

1003→
1004→ 1005→ 1006→ 1007→ 1008→
1009→
1010→ 1011→ 1012→
1013→
1014→

Data Pengamatan

1015→
1016→ 1017→ 1018→
1019→
1020→
1021→ 1022→ 1023→ 1024→ 1025→ 1026→
NoT (°C)K (M)t (s)1/t (s⁻¹)
1027→
1028→
1029→
1030→ Orde Reaksi (estimasi): 1031→ 1032→
1033→
1034→ R² (linearitas): 1035→ 1036→
1037→
1038→
1039→ 1040→
1041→
1042→ 1043→ 1044→
1045→ 1046→ Grafik Laju (1/t) vs Konsentrasi 1047→
1048→
1049→
1050→

Kesimpulan

1051→ 1052→ 1053→
1054→
1055→ 1056→ 1057→ 1058→ 1059→
1060→
1061→
1062→
1063→
1064→

Kontrol Simulasi

1065→
1066→ 1067→
1068→
1069→ Energi Aktivasi (Eₐ) 1070→ 50 1071→
1072→ 1073→

Energi minimum untuk tumbukan efektif

1074→
1075→ 1076→
1077→
1078→ Jumlah Partikel (Konsentrasi) 1079→ 50 1080→
1081→ 1082→

Lebih banyak partikel = konsentrasi lebih tinggi

1083→
1084→ 1085→
1086→
1087→ Temperatur 1088→ 25°C 1089→
1090→ 1091→

Suhu lebih tinggi = partikel lebih cepat

1092→
1093→ 1094→
1095→ 1096→
1097→ 1098→ 1099→ 1100→ 1101→
1102→

Kontrol kecepatan animasi partikel

1103→
1104→ 1105→
1106→ 1107→ 1108→
1109→
1110→ 1111→
1112→
1113→
1114→

Statistik Real-time

1115→
1116→
1117→
1118→
Laju Tumbukan
1119→
0/s
1120→
1121→
1122→
Laju Reaksi
1123→
0/s
1124→
1125→
1126→
1127→ Distribusi Energi 1128→ Maxwell-Boltzmann 1129→
1130→ 1131→
1132→
1133→
1134→ 1135→
1136→
1137→
1138→

Grafik Tumbukan

1139→
1140→
1141→ 1142→
1143→
1144→ Biru: Total tumbukan | 1145→ Kuning: Reaksi sukses 1146→
1147→
1148→ 1149→
1150→
1151→
1152→

Insight

1153→
1154→
1155→
1156→
Hubungan Konsentrasi
1157→

Partikel per volume bertambah → jarak antar partikel menurun → peluang tumbukan meningkat → laju reaksi naik.

1158→
1159→
1160→
Energi Aktivasi
1161→

Hanya tumbukan dengan energi kinetik ≥ Eₐ yang menghasilkan reaksi. Naikkan suhu untuk menaikkan energi partikel.

1162→
1163→
1164→
Tumbukan Efektif
1165→

Tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi. Hanya yang memiliki energi cukup DAN orientasi tepat.

1166→
1167→
1168→
1169→
1170→
1171→ 1172→ 1173→
1174→
1175→ 1176→ 1177→
1178→ 1179→ 1180→
1181→
1182→
1183→

Teori Tumbukan (Collision Theory)

1184→
1185→
1186→

1187→ Teori Tumbukan, yang dikembangkan oleh Max Trautz (1916) dan William Lewis (1918), menjelaskan bahwa reaksi kimia terjadi akibat tumbukan antar partikel reaktan. Namun, tidak semua tumbukan menghasilkan reaksi — hanya tumbukan yang memenuhi syarat tertentu yang akan menghasilkan produk. 1188→

1189→
1190→
1191→
1
1192→

Energi Cukup

1193→

Energi kinetik tumbukan ≥ Energi aktivasi (Eₐ)

1194→
1195→
1196→
2
1197→

Orientasi Tepat

1198→

Partikel harus bertumbukan dengan sudut/orientasi yang benar

1199→
1200→
1201→
3
1202→

Frekuensi Tinggi

1203→

Semakin sering tumbukan efektif, semakin cepat reaksi

1204→
1205→
1206→

1207→ Tumbukan yang memenuhi kedua syarat disebut tumbukan efektif. Laju reaksi sebanding dengan frekuensi tumbukan efektif per satuan waktu: 1208→

1209→
1210→ \( v = Z \times f \times P \) 1211→
1212→

1213→ di mana: Z = frekuensi tumbukan, f = fraksi partikel dengan energi ≥ Eₐ, P = faktor probabilitas orientasi (faktor sterik). 1214→

1215→
1216→
1217→ 1218→ 1219→
1220→
1221→
1222→

Pengaruh Konsentrasi terhadap Laju Reaksi

1223→
1224→
1225→

1226→ Konsentrasi menyatakan jumlah partikel zat terlarut dalam satuan volume tertentu (mol/L atau M). Pada reaksi homogen, peningkatan konsentrasi reaktan akan mempercepat laju reaksi melalui mekanisme berikut: 1227→

1228→
    1229→
  1. 1230→ Jumlah Partikel per Volume Bertambah 1231→

    Pada konsentrasi 2 M, jumlah partikel reaktan per liter dua kali lipat dibanding 1 M. Dalam volume yang sama, kerapatan partikel meningkat.

    1232→
  2. 1233→
  3. 1234→ Jarak Antar Partikel Menurun 1235→

    Partikel yang lebih rapat berarti jarak tempuh antar tumbukan lebih pendek, sehingga frekuensi tumbukan per satuan waktu meningkat.

    1236→
  4. 1237→
  5. 1238→ Frekuensi Tumbukan Meningkat 1239→

    Lebih banyak partikel × jarak lebih dekat → lebih banyak tumbukan per detik. Secara matematis, frekuensi tumbukan sebanding dengan hasil kali konsentrasi reaktan.

    1240→
  6. 1241→
  7. 1242→ Tumbukan Efektif Bertambah 1243→

    Karena distribusi energi partikel tidak berubah, fraksi tumbukan efektif tetap. Namun karena total tumbukan naik, jumlah tumbukan efektif juga naik proporsional.

    1244→
  8. 1245→
  9. 1246→ Waktu Reaksi Menurun 1247→

    Lebih banyak tumbukan efektif per detik → reaksi selesai lebih cepat → waktu yang dibutuhkan untuk membentuk jumlah produk tertentu menjadi lebih singkat.

    1248→
  10. 1249→
1250→
1251→

Analogi Visual

1252→

1253→ Bayangkan dua ruangan berukuran sama. Ruangan A berisi 10 orang, ruangan B berisi 50 orang. Jika setiap orang berjalan acak, peluang dua orang bertabrakan di ruangan B jauh lebih tinggi dibanding ruangan A. Begitu pula partikel reaktan — semakin pekat, semakin tinggi peluang tumbukan. 1254→

1255→
1256→
1257→
1258→ 1259→ 1260→
1261→
1262→
1263→

Hukum Laju Reaksi (Rate Law)

1264→
1265→
1266→

Untuk reaksi umum: aA + bB → produk, hukum laju dinyatakan sebagai:

1267→
1268→ \( v = k \cdot [A]^m \cdot [B]^n \) 1269→
1270→

1271→ di mana v = laju reaksi, k = konstanta laju, [A], [B] = konsentrasi reaktan, m, n = orde reaksi terhadap A dan B. 1272→

1273→ 1274→
1275→
1276→
Orde Nol (m=0)
1277→

Laju tidak dipengaruhi konsentrasi. v = k

1278→
Grafik [A] vs t: linier
1279→
1280→
1281→
Orde Satu (m=1)
1282→

Laju ∝ [A]. v = k[A]

1283→
Grafik ln[A] vs t: linier
1284→
1285→
1286→
Orde Dua (m=2)
1287→

Laju ∝ [A]². v = k[A]²

1288→
Grafik 1/[A] vs t: linier
1289→
1290→
1291→ 1292→
1293→

Reaksi Na₂S₂O₃ + HCl

1294→

1295→ Untuk reaksi yang disimulasikan di lab ini, laju dapat diamati melalui waktu yang dibutuhkan untuk membentuk endapan belerang: 1296→

1297→
1298→ v = Δ[S] / Δt ≈ 1 / t 1299→
1300→

1301→ Karena jumlah endapan yang diamati konstan (saat X menghilang), maka laju berbanding terbalik dengan waktu: v = 1/t. Dengan mengukur t pada berbagai [Na₂S₂O₃], kita dapat menentukan orde reaksi. 1302→

1303→
1304→
1305→
1306→ 1307→ 1308→
1309→
1310→
1311→

Persamaan Arrhenius

1312→
1313→
1314→

Persamaan Arrhenius menghubungkan konstanta laju (k) dengan suhu dan energi aktivasi:

1315→
1316→ \( k = A \cdot e^{-E_a / RT} \) 1317→
1318→

1319→ di mana A = faktor frekuensi (pre-exponential factor), Eₐ = energi aktivasi (J/mol), R = konstanta gas (8,314 J/mol·K), T = suhu absolut (K). 1320→

1321→
1322→

Bentuk Logaritmik

1323→
1324→ ln k = ln A − Eₐ / RT 1325→
1326→

1327→ Dengan memplot ln k terhadap 1/T, diperoleh garis lurus dengan kemiringan −Eₐ/R. Inilah dasar penentuan energi aktivasi eksperimen. 1328→

1329→
1330→
1331→
1332→ 1333→
1334→ 1335→ 1336→
1337→ 1338→ 1339→
1340→

Diagram Profil Energi

1341→
1342→ 1343→ 1344→ 1345→ 1346→ Koordinat Reaksi 1347→ Energi 1348→ 1349→ 1350→ 1351→ Reaktan 1352→ 1353→ 1354→ 1355→ Produk 1356→ 1357→ 1358→ 1359→ 1360→ 1361→ 1362→ 1363→ 1364→ 1365→ 1366→ Eₐ 1367→ 1368→ 1369→ 1370→ 1371→ ΔH 1372→ 1373→ 1374→ Kompleks Teraktifkan 1375→ 1376→ 1377→ Eₐ (kat) 1378→ 1379→
1380→
1381→
Tanpa katalis (Eₐ tinggi)
1382→
Dengan katalis (Eₐ lebih rendah)
1383→
ΔH negatif → reaksi eksoterm
1384→
1385→
1386→ 1387→ 1388→
1389→

Distribusi Maxwell-Boltzmann

1390→
1391→ 1392→ 1393→ 1394→ 1395→ Energi Kinetik (E) 1396→ Jumlah Partikel 1397→ 1398→ 1399→ [showing lines 1000-1399 of 4452; use offset=1400 with limit to continue reading]